Bagaimana APR? – TrusTrace Menjadi Future-ready Menggunakan Keterlacakan?

Pasokan rantai di industri fashion sering kali kompleks, dengan banyak merk yang memiliki sedikit visibilitas di luar tingkat satu dan dua pemasok dan banyak pemasok tidak mampu mengkomunikasikan sumber material mereka kepada pelanggan.

Pelanggan, Masyarakat, dan, Para regulator, menuntut informasi lebih lanjut, akan tetapi memetakan rantai pasokan global ini tetap menjadi sebuah tantangan.

Untuk membantu mengatasi kesenjangan ini, APR berkolaborasi dengan TrusTrace pada bulan Oktober 2019. Kemitraan ini memungkinkan APR dan TrusTrace untuk berbagi data pada platform penelusuran mereka.

Platform APR’s Follow Our Fibre menyediakan keterlacakan dan transparansi di seluruh rantai produksinya mulai dari pembibitan hingga serat viscose stapel, sementara TrusTrace memetakan seluruh value chain garmen mulai dari garmen ke kain hingga benang ke serat dan sumber serat.


value chain TrusTrace dari garmen ke serat

Singkatnya, pada Juni 2020 tujuan awal menggabungkan data telah tercapai, akan tetapi masih banyak yang perlu dilakukan, kata Cherie Tan, Vice President, Sustainability and Communications, Asia Pacific Rayon.

“Kami sebenarnya telah melakukan apa yang kami lakukan, namun menurut saya apa yang telah kami pelajari melalui prakarsa ini adalah mencoba memahami rantai pasokan kami bersama dengan rantai pasokan pelanggan TrusTrace dan kami memahami bahwa masih ada kesenjangan, karena value chain saat ini masih ada satu atau dua tingkatan lagi untuk membangun keterlacakan produk end to end dari jaringan pelanggan,” ujarnya. “Jadi masih ada masalah dengan seluruh value chain yang tidak bergabung.”

Sementara meningkatnya jumlah perusahaan hilir yang memperhatikan keterlacakan dalam rantai pasokan mereka, itu tidaklah cukup jauh untuk terhubung ke produsen hulu. Dan itulah yang membuat kemitraan APR begitu menarik, kata Shubham Kulshrestha, Senior Manager of Business Operations at TrusTrace.

“Ketika kita berbicara tentang traceability, biasanya selalu didorong dari atas, dimana brand / pengecer / pelanggan memulai permintaan dan kemudian kami runut hingga rantai terbawah,” katanya. “Dan itu merupakan seluruh ide dengan proyek ini – kami ingin memulai upaya untuk membangun traceability ke atas.”

Saat ini, pendekatan industri untuk keterlacakan cukup terfragmentasi. Banyak perusahaan membuat data mereka tersedia, tetapi seringkali dilakukan melalui platform yang berbeda. Itu berarti bahwa pelacakan rantai pasokan tunggal mungkin melibatkan penggunaan beberapa platform, tidak semua yang dapat berintegrasi satu sama lain.

Kemitraan antara APR dan TrusTrace adalah upaya untuk mengubah model tersebut, kata Cherie. “Apa yang kami rasakan adalah bahwa sebagai sebuah industri, seharusnya tidak hanya tentang satu sistem, tetapi tentang kemampuan sistem untuk berkomunikasi satu sama lain. Saya pikir TrusTrace sangat percaya pada nilai transparansi yang sama tidak hanya di industri dan di antara para pelaku dalam rantai nilai, tetapi juga transparansi aktual dalam sistem.”

“Tujuan akhirnya seharusnya tidak boleh untuk mempromosikan platform tertentu, tetapi untuk membuat data yang terkandung pada berbagai platform dapat diakses, dan bermanfaat semaksimal mungkin”, kata Shubham. “Gagasan keseluruhan, mungkin beberapa tahun ke depan, adalah bahwa akan ada satu sistem terpadu dan platform seperti TrusTrace akan menjadi bagian dari value chain yang lebih besar. Agar siap di masa depan, kami telah memastikan bahwa sistem kami dibangun dengan standar internasional seperti GS1 untuk memungkinkan komunikasi yang mudah dengan sistem yang berbeda dan secara aktif mendukung sistem terpadu dengan membangun aliran data yang mulus.”

Kerjasama industri
Blockchain sekarang telah dikenal, setidaknya sebagai sebuah konsep, akan tetapi seperti semua teknologi baru, itu akan membutuhkan waktu untuk menjadi berkembang. Ini memiliki potensi untuk mengubah rantai pasokan dengan membuat informasi pada setiap tahap proses produksi yang tersedia secara bebas. Dan sementara kemajuan yang pasti sedang dibuat ke arah tersebut, masih ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

“Fakta bahwa pelanggan dan merek hanya dapat melihat sejauh satu atau dua tingkat rantai tetapi tidak dapat melangkah lebih jauh ke rantai pasokan selanjutnya yang menunjukkan bahwa cara informasi ini dibagi sangat terfragmentasi,” kata Cherie.

Follow Our Fibre mulai dari benih hingga bal viscose

“Sebagai industri, kita harus benar-benar mencari cara untuk menjembatani data di seluruh platform menjadi satu di sitem yang sama, saat ini kami belum mencapai hal tersebut. Namun, kami yakin bahwa hal tersebut bisa terjadi, itu sebabnya kita perlu akselerasikan upaya ini.”

Bagian dari tantangannya adalah bahwa perusahaan dapat enggan berbagi data mereka karena kekhawatiran tentang penggunaan data tersebut. Tetapi semakin banyak pasar menuntut lebih banyak transparansi, baik itu dari regulator dan lembaga sertifikasi, atau konsumen etis yang ingin membuat lebih banyak pilihan informasi.

Akhirnya, pelanggan akan dapat berjalan-jalan ke toko pakaian, memindai kode QR, serta belajar tentang sumber bahan baku dan kondisi di mana tekstil itu dibuat. Jika kemudian bermuara pada pilihan antara membeli dari merek yang transparan dengan data dibandingkan dengan yang tidak, pelanggan cenderung memilih dengan dompet mereka, kata Shubham.

Konsumen dapat memindai kode QR untuk mengetahui tentang sumber bahan baku

Dan telah ada bukti dari informasi ini digunakan untuk mempengaruhi pembelian. TrusTrace bekerja dengan beberapa perusahaan e-commerce yang menyajikan data TrusTrace kepada pelanggan pada halaman produk.

“Mereka melakukan itu karena mereka telah melihat perubahan bertahap dalam bisnis mereka,” kata Shubham. “Dengan berbagi informasi ini mereka dapat membuktikan bahwa garmen mereka berkelanjutan, organik, ramah lingkungan, dan hal tersebut meningkatkan penjualan. Jadi ada kasus bisnis yang sangat jelas.”

Meskipun banyak bisnis akan mencari keuntungan finansial atas investasinya dalam traceability, namun juga memberikan manfaat tambahan di luar penjualan langsung. Secara global ada peningkatan perhatian terhadap dampak industri fashion pada lingkungan, dan memiliki rantai pasokan yang lebih transparan memungkinkan brand untuk mengkomunikasikan cerita positif tentang dampak yang mereka alami di lapangan.

Sebagai contoh, APR bekerja dengan masyarakat lokal di Indonesia untuk membantu mereka mengembangkan keterampilan mereka dan meningkatkan mata pencaharian mereka. Rantai pasokan yang lebih transparan memungkinkan cerita positif tersebut untuk diceritakan kepada pembeli yang membeli pakaian yang dibuat dengan menggunakan viscose rayon APR, dan tidak hanya untuk pelanggan APR langsung.

“Jadi pada akhirnya, ini bukan hanya sekedar alat untuk menunjukkan transparansi, tetapi juga merupakan alat untuk komunikasi,” kata Cherie. “Ini adalah alat untuk mendorong perbaikan yang jauh lebih berkelanjutan dan mudah-mudahan pada beberapa titik kolaborasi dengan brand sehingga brand memiliki cerita positif dari rantai pasokan untuk berkomunikasi dengan konsumen.”


Artikel Terkait

Saat Viscose APR Berpadu dengan Tenun Khas Riau di MUFFEST 2020

Untuk pertama sekali di dalam sejarah Riau, dua perancang muda asal Riau terbang ke Ibukota untuk memamerkan karya yang diperagakan […]

Orang-orang di Asia Pacific Rayon dan Aspirasi Mereka untuk Indonesia Maju

Hari kemerdekaan tahun ini bertemakan “Indonesia Maju”, berharap untuk menghidupkan kembali api semangat berjuang rakyat Indonesia yang letih dan cemas […]

Highlights Kuarter Kedua di tahun 2020

Ringkasan sorotan kami di kuarter kedua tahun 2020 yang mencakup kolaborasi kami dalam memproduksi masker kain, peluncuran Man-Made Cellulosic Fibre […]