Bagaimana Celine Membantu Desainer Muda Praktikan Fesyen Berkelanjutan Bersama APR

Sebelum bergabung bersama Asia Pacific Rayon (APR), Celine selalu bermimpi menjadi seorang desainer. Sekarang, gadis berumur 23 tahun ini menyadari bahwa merangkul desainer-desainer lokal dan mendukung mereka dalam mewujudkan fesyen yang lebih berkelanjutan adalah hal yang jauh lebih penting.

Bekerja di Kantor yang Estetis

Setelah lulus dari jurusan Fashion Design & Creation di Esmod Jakarta pada tahun 2018, Celine mengawali kariernya di industry fesyen sebagai seorang desainer di perusahaan garmen lokal. Perkenalannya dengan APR baru dimulai pada tahun 2019.

“Awalnya, saya melihat kesempatan bekerja di APR sebagai sebuah tantangan besar, sebagai seseorang yang memiliki latar belakang desain,” ungkapnya. “Namun, ketika saya mempelajari terkait topik fesyen berkelanjutan, pandangan saya berubah sepenuhnya dan saya mulai tertarik untuk terjun ke dalamnya.”

Pada 13 Januari 2020, Celine resmi bergabung dengan APR sebagai Fashion Development Specialist.

“Sebagai bagian dari Departemen Business Development, saya berkantor di pusat Jakarta. Sebuah keberuntungan, sebenarnya, karena kantor tempat saya bekerja adalah Jakarta Fashion Hub,” terang Celine.

Jakarta Fashion Hub (JFH) adalah sebuah ruang kolaboratif yang mempertemukan desainer, pekerja kreatif, dan pencinta fesyen untuk dapat merangsang pertumbuhan industri fesyen Indonesia yang lebih berkelanjutan .

Beroperasi dengan menjalankan protokol kesehatan secara menyeluruh, JFH telah resmi dibuka pada tahun 2020.

“Sebagai bagian dari generasi milenial, tak sedikit teman-teman saya yang iri melihat saya bekerja di kantor dengan penataan design interior yang estetis dan terhubung dengan fasilitas yang moderen. Saya rasa ini adalah kantor impian seluruh desainer fesyen,” ungkap Celine. “Namun, yang terpenting, saya dapat bertemu banyak sekali pelaku kreatif dengan minat kuat untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi industri fesyen.”

“Orang-orang datang ke JFH untuk menghadiri workshops, melakukan pemotretan produk, bahkan mengadakan rapat dan mewujudkan berbagai ide di sini. Menurut saya, ruang kreatif seperti JFH sangat dibutuhkan oleh para pecinta fesyen untuk memperdalam potensi yang mereka miliki,” terangnya.

“Anda tidak hanya akan datang ke JFH untuk bekerja. Ketika Anda datang ke sini, Anda akan menciptakan sebuah karya, mewujudkan ide-ide unik Anda. Kami bahkan berkesempatan membuat video di mana kami menari dengan kain-kain bercorak cantik sebagai latar belakangnya,” Celine bercerita sambil tersenyum. “Kalau mau lihat bisa cek di IG kita.”

Merangkul Desainer-Desainer Lokal

“Sering kali, pekerjaan saya lebih banyak menuntut saya untuk mendekati para desainer fesyen dan perusahaan start-up di bidang fesyen untuk memperkenalkan viscose sebagai bahan alternatif yang lebih berkelanjutan ,” kata Celine.

Viscose, yang juga dikenal dengan nama rayon, adalah serat yang terbuat dari pohon Eucalyptus. Viscose cenderung terjangkau dari segi harga dan dapat digunakan untuk berbagai macam gaya pakaian. Selain itu, karakter viscose terkenal halus, lembut, ringan, terasa sejuk di kulit, serta memiliki kemampuan menyerap dan menjaga warna dengan baik.

Karakternya yang multi-fungsi membuat viscose tetap bagus untuk dipadukan dengan material tekstil lainnya.

“Kami percaya bahwa viscose memberikan keunggulan bagi industri tekstil di Indonesia karena ditanam, diproduksi, dan dibuat menjadi kain di negara ini, Everything Indonesia. Sementara itu, peran saya adalah untuk meyakinkan para desainer dan pegiat fesyen untuk mulai menggunakan viscose sebagai material dalam kreasi desain mereka. Memadukan viscose dengan bahan lain, dan menggunakan bahan yang terbuat dari alam sebagai salah satu komposisi dari produk fesyen mereka dapat membantu mendorong industri fashion di Indonesia untuk menggunakan serat kain yang diproduksi secara domestik,” terang Celine.

“Apakah mudah meyakinkan desainer lokal untuk mulai menggunakan viscose? Tidak,” ungkapnya seraya tersenyum. Meski kesadaran ke arah fesyen berkelanjutan sudah mulai terbangun, namun mayoritas masyarakat Indonesia masih mementingkan gaya dan kenyamanan dibanding jenis bahan dan material yang digunakan.

“Viscose belum banyak dikenal di Indonesia karena belum banyak desainer yang menggunakannya. Hal ini memberikan tantangan yang cukup besar, untuk membuat bahan yang ramah lingkungan ini lebih dikenal lagi oleh masyarakat,” Celine melanjutkan.

“Umumnya, desainer tidak tahu mana bahan yang berkelanjutan karena sulit menemukan informasi semacam itu di pasar. Sehingga, ketika kami menjelaskan bahwa viscose terbuat dari material alami dan melalui proses produksi yang telah tersertifikasi dan dapat diketahui melalui label semacam ‘Made in Green’, desainer akan tertarik menggunakannya,” Celine menjelaskan.

“Ada pula beberapa desainer yang sudah mengenal viscose, namun sejauh ini hanya tahu bahwa bahan ini bagus untuk daster atau baju tidur. Hal yang saya lakukan adalah menjelaskan kembali bahwa viscose adalah bahan yang sangat multi-fungsi, bahkan bisa dipadukan untuk membuat denim. Dari situ biasanya mereka mulai tertarik menggunakan viscose,” lanjutnya bersemangat.

“Sangat memuaskan bagi saya ketika desainer atau merek-merek pakaian menggunakan viscose APR,” Celine tersenyum. “Saya menyadari bahwa cara terbaik untuk memenangkan hati mereka adalah dengan bertukar ilmu dan informasi untuk  memperkenalkan tentang viscose.”

Ambil Andil Menentukan Masa Depan Fesyen

Memiliki latar belakang dari dunia fesyen, Celine memahami bahwa masa depan fesyen harus mulai berjalan ke arah yang lebih berkelanjutan.

“Dengan meningkatnya kesadaran pelanggan terhadap konsep fesyen etis, akan muncul semakin banyak permintaan dan harapan agar merek lokal mulai menekankan proses yang lebih berkelanjutan,” Celine menjelaskan.

Celine sangat menyadari bahwa tugasnyalah untuk menyediakan informasi terkait alternatif yang lebih berkelanjutan bagi desainer lokal, merek produk fesyen, bahkan murid sekolah fesyen.

“Berbicara tentang kain, ada ribuan pilihan di pasar. Jadi, tugas saya adalah untuk memberikan alasan bagi para kreator untuk selalu memilih produk yang lebih ramah bagi lingkungan,” lanjutnya.

“Salah satu cara yang kami lakukan adalah memberikan edukasi bagi pelanggan dengan cara yang ringan dan menyenangkan melalui kanal media sosial,” Celine lanjut menerangkan. “Karena sekarang semua orang berada di dunia digital, kita harus selalu bertindak adaptif, khususnya ketika tujuannya adalah menyebarkan kesadaran dan mempromosikan viscose.”

“Namun, kami tetap mencoba memberikan konten yang mudah dicerna oleh masyarakat. Tidak hanya melalui media sosial, kami juga mengadakan berbagai webinars untuk merangkul lebih dalam lagi para pelanggan dan kreator, sekaligus menyebarkan pesan kuat terkait masa depan yang lebih berkelanjutan. Berbagi pengetahuan adalah hal yang menyenangkan!” pungkas Celine.

 

Anda berminat untuk pekerjaan yang menginspirasi, menantang, dan bermanfaat? Bergabunglah dengan kami hari ini.

###


Artikel Terkait

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Menghasilkan Masker Kain Ramah Lingkungan Menggunakan APR Viscose

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan penurunan ekonomi secara global, dimana perusahaan-perusahaan harus merespon serta beradaptasi dengan keadaan new-normal untuk dapat terus […]

Ilmuwan Wanita APR dan Kesempatan Berkarier Bagi Generasi Muda

Dalam memperingati hari Ilmuwan Wanita Sedunia yang jatuh pada tanggal 11 Februari, kami berbincang dengan dua ilmuwan wanita di Asia […]

APR Gelar Pemeriksaan Kesehatan Masyarakat di 7 desa di Pelalawan

Asia Pacific Rayon (APR) mengadakan pemeriksaan kesehatan masyarakat di tujuh desa, memberikan kesempatan kepada lebih dari 400 orang untuk berkonsultasi […]