Kartini Lokal Meningkatkan Perkonomian dari Batik

Dalam rangka memperingati Hari Kartini di Indonesia sebagai pahlawan nasional atas perjuangannya tentang hak-hak perempuan, kami menyajikan kisah sekelompok perempuan yang menjaga tradisi lokal tetap hidup, sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat.

Batik Bono adalah batik tradisional dari kabupaten Pelalawan – rumah bagi operasi Asia Pacific Rayon (APR). PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP), bagian operasional dari pemasok terintegrasi Grup APRIL, mendirikan Rumah Batik Andalan untuk membantu perempuan lokal memproduksi dan memasarkan bagian penting dari warisan budaya lokal ini.

kartini-masa-kini

Salah satunya Adhe Irmawani, perempuan berusia tiga puluh tujuh tahun ini telah menggeluti Batik sejak tujuh tahun lalu.

“Saya mulai membatik dengan tanpa pengetahuan tentang membatik sama sekali,” ujarnya. Adhe mengaku awal mula ketertarikannya adalah karena keinginannya mencari kegiatan setelah mengantar anak sekolah.

Setiap hari, Adhe berangkat jam 9.00 pagi dari rumah ke Rumah Batik Andalan, workshop binaan PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP) yang berjarak empat kilometer dari rumahnya.

Bersama sepuluh perempuan lokal lainnya, Adhe dibekali pelatihan dan pembinaan dari Community Development PT RAPP. Hingga suatu hari, Community Development APR ikut serta melakukan pendekatan dan turut membekali seluruh pembatik dengan pelatihan-pelatihan. Diantaranya pengembangan pola dan motif batik serta pelatihan membatik dengan metode pewarna alam.

“Dari program perusahaan, kami jadi bisa berkreasi dalam membatik Bono, dari yang awalnya teknik pewarnaan biasa hingga kini menggunakan teknik warna alam yang jauh lebih ramah lingkungan dan cantik,” papar Adhe menjelaskan.

Koordinator Program Pemberdayaan Masyarakat APR, Metti Haryanti menegaskan perusahaan juga memperkenalkan kain viscose kepada seluruh pembatik di daerah sekitar. “Kami berusaha membantu pembatik lokal menemukan kreasi baru dalam karyanya. Kami juga perkenalkan kain viscose yang berasal dari daerah mereka sendiri.”

Kain viscose memiliki keunggulan dalam penyerapan warna yang maksimal. Sifat serat selulosa yang sangat menyerap memungkinkannya mengambil pewarna dengan sangat baik, menghasilkan warna yang kaya dan bercahaya tanpa kehilangan kilau alaminya.

“Kain viscose dengan pewarna alam adalah salah satu paduan yang sangat indah dalam batik,” Adhe menjelaskan seraya mencanting batiknya. “Tak hanya karena pewarnanya yang berasal dari tumbuhan, namun kainnya pun ternyata berbahan baku alami! Kami salut selama ini tanah kami menjadi sumber bahan baku pakaian yang ramah lingkungan.”

kartini-indonesia-pembatik

Hingga saat ini, Adhe dan rekan-rekan batik lainnya mampu membantu perekonomian di keluarganya masing-masing. Hal ini membuktikan bahwa perempuan dapat diandalkan untuk maju dan menghasilkan karya.

APR berkomitmen pada pemberdayaan gender dan memungkinkan perempuan dan anak perempuan setempat untuk membangun komunitas yang lebih inklusif di Riau. Perusahaan berkomitmen untuk mewujudkan visi masyarakat inklusif dan memberikan dampak pada SDG Goal 5 Pemberdayaan Gender dan Tujuan 10 Mengurangi Ketimpangan.

###


Artikel Terkait

Karyawan APR Lakukan Perubahan Melalui Plastic-Free Challenge

Manfaat plastik dalam kehidupan sehari-hari sudah tidak perlu dipertanyakan. Plastik cenderung murah dan mudah didapatkan. Tidak heran jika produk plastik, […]

Orang-orang di Asia Pacific Rayon dan Aspirasi Mereka untuk Indonesia Maju

Hari kemerdekaan tahun ini bertemakan “Indonesia Maju”, berharap untuk menghidupkan kembali api semangat berjuang rakyat Indonesia yang letih dan cemas […]

Gandeng Jakarta Fashion Hub, PURANA X Hakim Satriyo Luncurkan Koleksi Pakaian Berbahan Ramah Lingkungan

Nyatanya, tak banyak yang tahu betapa Jakarta Fashion Hub sangat terbuka untuk berkolaborasi bersama para desainer dalam negeri Oleh Astrid […]