Perempuan Penenun Menjaga Kerajinan Tradisional Tetap Hidup dengan Viscose Berbahan Alami

Memberdayakan perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia adalah termasuk ke dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) Perserikatan Bangsa-Bangsa nomor 5 tentang Kesetaraan Gender dan Tujuan 10 Mengurangi Ketimpangan

 

Pada Hari Perempuan Sedunia kali ini, tema kampanye #choosetochallenge adalah tantangan untuk menyuarakan ketimpangan dan merayakan pencapaian perempuan. Hari ini, kami merayakan pencapaian sehari-hari dari salah satu wirausahawan perempuan inspiratif di kota berkembang Siak, Riau, yang tidak hanya percaya diri dengan kemampuannya tetapi juga impian untuk mengembangkan perempuan di sekitarnya, yang kisahnya ingin kami sajikan.

penenun kain songket melayu siak riau

Dia adalah Rostia Harlina atau dikenal sebagai Yati, seorang ibu berusia empat puluh dua tahun yang memiliki banyak peran dalam hidupnya. Dia adalah seorang istri, ibu, guru di Sekolah Menengah Atas di Siak dan seorang pengusaha tenun yang mempekerjakan 17 orang perempuan.

Ketika kami bertanya, mengapa Anda ingin melakukan semuanya? Dia menjelaskan bahwa dia tidak berniat menjalankan bisnis pada awalnya, tetapi dia harus mengambil alih bisnis sebagai satu-satunya anak perempuan dalam keluarga.

songket tenun siak riau

Ia mengatakan bahwa ibunya mengenalkannya pada tenun Siak (juga dikenal dengan kain Songket) sebagai bagian dari warisan budaya mereka yang diturunkan dari Kerajaan Siak.

“Ibu saya adalah orang yang menginspirasi saya, dialah yang mengajari saya cara menenun, jadi inilah yang menggerakkan saya untuk terus menjalankan bisnis ketika dia telah tiada.”

Yati mengambil alih bisnis tersebut pada tahun 2011 dan mengaku tahun pertama tidak mudah baginya karena belum memiliki pengalaman menjalankan bisnis.

“Butuh waktu tiga tahun bagi saya untuk bisa menjalankannya dengan stabil, saya belajar manajemen waktu dari nol, dan saya mendekati semua pekerja agar mereka bisa bekerja dengan arus yang benar,” tambah Yati.

Dengan kegigihannya, Yati berhasil menjalankan usahanya dengan baik sekaligus bekerja sebagai guru biologi di MAN 1 Siak.

“Kuncinya adalah pandai dalam manajemen waktu dan konsistensi. Sebagai perempuan, sudah menjadi insting kita untuk serba bisa, bangun pagi untuk mempersiapkan suami dan anak, lalu dilanjutkan dengan mengajar di sekolah dan mengecek para karyawan di workshop,” kata Yati.

Dengan jadwal mengajarnya yang padat, terkadang dia harus mengemban tanggung jawab berat. “Saya harus tetap profesional tanpa mengesampingkan siswa saya. Untuk itu, saya selalu memberikan janji temu dengan pelanggan hanya pada sore hari setelah mengajar.”

Sebagai pengakuan atas tenun dalam warisan lokal dan mendukung kerajinan lokal di wilayah tersebut, tim pengembangan masyarakat APR pertama kali mengunjungi workshop tenun Yati pada November 2020. Mereka mulai bekerjasama dengan Yati, meningkatkan teknik menenunnya menggunakan benang viscose rayon alami APR.

“Sejujurnya saya belum pernah menggunakan benang viscose rayon sebelumnya. Awalnya saya penasaran dan semangat hingga langsung mendalami benang ini. Hasilnya indah, lembut disentuh dan bagus untuk ditenun,” akunya.

Ia mengungkapkan rasa lega saat bertemu dengan APR. Sudah lama ia memimpikan memiliki mitra untuk mengembangkan tenun Siak yang unik. Tenunan Songket Siak berasal dari budaya lokal Riau yang kaya akan kearifan lokal dan sejarah.

Menurut Yati, kain songket sering dikaitkan dengan pakaian adat. Meski begitu, menurutnya songket yang modis modern dapat dipadukan untuk membuat tas, gaun pengantin, dan produk lain yang sesuai selera konsumen trendi.

Koordinator Pengembangan Masyarakat APR, Metti Haryanti, membenarkan dukungan perusahaan terhadap rumah tenun yang dikelola Yati.

“Perusahaan melihat bakat dan potensi Yati dalam mengembangkan teknik tenun ini di daerahnya. Dia memiliki visi yang baik untuk melestarikan warisan budaya unik ini sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi perempuan di sekitarnya. Kami ingin mendalami kerajinan ini dan memungkinkan perempuan seperti Yati dan lainnya untuk mengembangkan bakatnya lebih jauh,” jelas Metti.

Yati berharap bisnis songket miliknya akan berkembang, memberikan lebih banyak kesempatan kerja bagi perempuan setempat. Dengan begitu, ia bisa menjaga budaya lokalnya sekaligus memberdayakan perempuan di daereahnya.

APR berkomitmen pada pemberdayaan gender dan memungkinkan perempuan dan anak perempuan setempat untuk membangun komunitas yang lebih inklusif di Riau. Perusahaan berkomitmen untuk mewujudkan visi masyarakat inklusif dan memberikan dampak pada SDG tujuan nomor 5 Pemberdayaan Gender dan tujuan nomor 10 Mengurangi Ketimpangan.

###


Artikel Terkait

Follow Our Fibre Kembali Hadir Memenuhi Kebutuhan Industri untuk Transparansi dan Akuntabilitas yang Lebih Baik

Dalam menghadapi kekhawatiran yang meningkat atas perubahan iklim dan tanggung jawab lingkungan, konsumen fesyen menuntut lebih transparansi dan akuntabilitas dari […]

APR Mendukung Desainer Muda di MUFFEST 2020

Perancang busana muda di Indonesia kembali diberi kesempatan untuk memamerkan desain mereka di panggung peragaan busana di Muslim Fashion Festival […]

APR Mensponsori Program Gizi Anak Usia Dini dan Persiapan Makan Pendamping ASI di Hari Gizi Nasional

Untuk memperingati Hari Gizi Nasional Indonesia, kami bekerja sama dengan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) untuk menyelenggarakan lokakarya […]