APR Mengatur Gathering Celebrating ‘The Journey from Sustainable Fibre to Fashion’

APR menyelenggarakan pertemuan roundtable dengan 45 perwakilan dari industri fesyen Indonesia merayakan perjalanan dari sustainable fibre ke dalam fesyen. Pertemuan itu berlangsung di Kantor Penjualan Jakarta APR pada hari Kamis, 13 September 2018 dan termasuk para desainer dari Indonesian Fashion Chamber (IFC), perwakilan dari institutes LaSalle College Jakarta dan Istituto di Moda Burgo, dan pelanggan yang terpilih.

Pada roundtable, peserta diperkenalkan ke viscose fibre sebagai bahan baku yang secara alami terbuat dari pohon yang ditanam secara berkelanjutan yang melengkapi sustainable fashion dengan atribut yang biodegradable dan alami. Produk yang terbuat dari viscose fibre bercirikan lembut, breathable dan nyaman untuk kulit.

Group photo of representatives from Indonesian textile & fashion industry

Foto grup perwakilan dari Indonesian textile & fashion industry

Indonesia sebagai Juara Tekstil di Dunia

Pertemuan dibuka dengan presentasi dari Ben Poon, Wakil Kepala APR, tentang proposisi nilai unik perusahaan dalam rantai pasokan sebagai satu-satunya pemain yang mampu menanam, memproduksi dan memproduksi viscose staple fibre sepenuhnya di Indonesia. ‘Semuanya Indonesia’ adalah kampanye yang diperjuangkan oleh APR yang mana merayakan transformasi industri fesyen Indonesia, mempromosikan produk yang dibuat di Indonesia dan menuju ke pasar global. Visi untuk menjadikan Indonesia sebagai Juara Tekstil tidak akan mungkin tanpa kolaborasi dari berbagai kalangan dalam rantai nilai tekstil di Indonesia.

Panel Discussion during APR Designers Workshop

Panel Discussion (L to R):
Reviana Rahmania Surya (moderator), Yonita Yunus, Tapan Kumar Sannigrahi, Ali Charisma

Pada Malam itu diadakan diskusi panel yang terdiri dari anggota panel Ali Charisma, Presiden dari Indonesian Fashion Chamber (IFC), Novita Yunus, Pendiri dan Direktur Creative Director dari Batik Chic, dan Tapan Kumar Sannigrahi, VP Business Development dari APR, topic pembicaraannya adalah tentang ‘Membuat Fashion di Indonesia Hebat Lagi ‘.

Novita Yunus berkomentar bahwa “perancang busana lokal Indonesia dapat memimpin, menciptakan desain yang lebih otentik yang dapat menjadi global”, mendorong desainer lokal untuk mengambil peran yang lebih besar dalam mempromosikan identitas Indonesia secara global.

Ini disepakati oleh Ali Charisma pada pesannya kepada sesama perancang busana. “Mimpi kami adalah memiliki perancang busana yang lahir dan terawat di Indonesia dan menjadi sukses. Tetapi jangan mengejar impian Anda di luar negeri. Masa depanmu di sini. Kami memiliki sumber daya, budaya, pengrajin dan tenaga kerja di negara ini. Semua ini, ditambah kemitraan dengan perusahaan yang bersedia bekerja dengan desainer untuk membuat pakaian, akan menjadikan fesyen Indonesia hebat lagi, ”katanya.

Fesyen Berkelanjutan

Keberlanjutan juga merupakan faktor penting bagi industri fesyen. “Di APR, kami mengambil keberlanjutan secara serius di bidang pulp sourcing, clean manufacturing, serta social stewardship,” kata Cherie Tan, Kepala Sustainability and Communications APR. Topik tentang fesyen berkelanjutan secara positif digemakan oleh beberapa peserta selama diskusi meja interaktif pada paruh kedua malam di mana mereka diberi kesempatan untuk saling bertukar pandangan untuk memaksimalkan pembelajaran.

APR designers workshop table discussions

Diskusi tentang topik yang terkait dengan industri

Malam berakhir dengan makan malam merayakan citarasa Indonesia dalam suasana santai di mana para peserta berinteraksi bersama.

Tentang Asia Pacific Rayon:

Asia Pacific Rayon (APR) akan menjadi produsen viscose rayon pertama yang terintegrasi penuh di Indonesia. Perusahaan memproduksi viscose fibre alami dan biodegradable yang digunakan dalam produk tekstil. Berkomitmen pada pengadaan sumber yang berkelanjutan dan manufaktur yang bersih, APR menghasilkan produk bermutu tinggi yang memenuhi kebutuhan pelanggan, sambil menyentuh kehidupan masyarakat di sekitar area operasi kami. Kapasitas kilang APR sebesar 240.000 ton berlokasi di Pangkalan Kerinci, Riau, Indonesia dan dijadwalkan akan mulai beroperasi pada Q4 2018.