Apa itu Fashion Berkelanjutan?

Fast fashion telah memberikan begitu banyak pilihan untuk memenuhi selera pasar. Tapi sadarkah bahwa kita membayar mahal untuk hal ini?

Data di tahun 2017 menunjukkan, jangka waktu pemakaian baju sebelum dibuang, turun hingga 36 persen selama 15 tahun terakhir. Di Amerika Serikat saja, satu pakaian hanya digunakan rata-rata 40 kali sebelum dibuang.

Data dari Ellen McArthur Foundation pun menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat di dunia membuang sekitar 12 hingga 14 ton sampah tekstil setiap detiknya.

Sayangnya, bahan sintetis seperti nilon, poliester dan akrilik, yang mendominasi 60 persen produksi pakaian, tidak lain adalah bahan plastik yang terbuat dari minyak bumi.

Penelitian menunjukkan bahwa bahan-bahan ini menghasilkan microfiber ketika dibilas dengan air yang akan berakhir di laut, mengancam habitat dan biota laut. Lebih parah lagi, microfiber ini juga dapat masuk ke tubuh manusia melalui olahan makanan laut yang kita konsumsi.

Tentu saja, bahan-bahan sintetis ini tidak dapat terurai di tanah secara alami. Artinya, bahan-bahan ini hanya dapat hancur melalui proses pembakaran atau berakhir di tempat pembuangan sampah, di mana mereka akan tetap utuh selama ratusan tahun.

Tidak hanya itu, menurut World Resource Institute, emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari produksi poliester juga setara dengan pengoperasian 185 pembangkit listrik tenaga batu bara setiap tahunnya.

Menyikapi kondisi ini, fashion berkelanjutan kemudian digadangkan sebagai solusi, namun apa itu sebenarnya fashion berkelanjutan?

Secara sederhana, fashion berkelanjutan adalah suatu gerakan yang menuntut agar industri tekstil lebih mementingkan lingkungan serta masyarakat yang memproduksinya.

Sustainable Fabrics

Menerapkan fashion berkelanjutan juga berarti bertanggung jawab, tidak hanya terhadap produksi bahan mentah yang menjadi kain, namun juga terhadap lokasi dan metode pembuatan pakaian tesebut, termasuk orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Terdapat tiga hal utama yang harus diperhatikan dalam penerapan fashion berkelanjutan:

1. Bahan mentah

Umumnya, serat alami merupakan pilihan dengan dampak yang lebih baik untuk lingkungan, dibandingkan dengan serat sintetis. Contohnya adalah rayon viskosa yang terbuat dari kayu selulosa, serat alami yang sama sekali tidak mengandung plastik dan mudah terurai dengan alami di tanah.

Memilih serat alami adalah langkah yang tepat. Namun, perlu diperhatikan juga dari mana serat alami tersebut berasal. Di APR, sumber serat alaminya berasal dari hutan tanaman industri terbarukan yang dikelola secara berkelanjutan. Berlokasi di Pangkalan Kerinci, Riau, pohon di hutan tanaman industri APR dapat dipanen dalam waktu lima tahun untuk memastikan ketersediaan bahan mentah secara terus-menerus.

Seiring dengan semakin kuatnya komitmen para pelaku bisnis di industri fashion untuk 100 persen menerapkan prinsip berkelanjutan, prinsip keterlacakan pun muncul sebagai aspek penting yang harus diperhatikan. Kami merilis followourfibre.com yang memanfaatkan teknologi blockchain untuk secara transparan menunjukkan kepada pelanggan kami bahwa bahan mentah yang kami gunakan betul-betul berasal dari sumber yang berkelanjutan.

2. Proses produksi

Produksi bahan mentah hingga menjadi kain umumnya merupakan proses yang memerlukan sumber energi yang besar dan juga bahan kimia yang dibutuhkan mulai dari produksi kain hingga pewarnaannya.

Di APR, kami selalu berupaya untuk mengelola dengan baik emisi gas dan penggunaan bahan kimia dalam proses produksi kami. Proses manufaktur kami beroperasi dengan sistem kontrol loop tertutup yang membantu memulihkan 90 persen bahan kimia yang digunakan dalam keseluruhan produksi. Pabrik kami beroperasi dengan memanfaatkan energi biomassa terbarukan. Sementara itu, sumber bahan mentah kami berlokasi dekat dari pabrik guna memangkas kebutuhan transportasi jarak jauh.

3. Masyarakat

Hal terakhir dan tak kalah pentingnya adalah untuk selalu memerhatikan dampak yang dirasakan masyarakat setempat. Selain menciptakan lapangan pekerjaan, APR juga selalu berupaya memberikan dampak positif di wilayah operasional kami. Contohnya, kami bermitra dengan para pengrajin kain batik lokal untuk membantu mereka menerapkan prinsip keberlanjutan dengan menggunakan bahan-bahan yang lebih alami, seperti rayon viskosa.

Mengapa Sertifikasi Penting?

Sertifikasi yang diterbitkan oleh badan resmi juga merupakan salah satu kunci penerapan fashion berkelanjutan yang baik. Dewasa ini, standarisasi penilaian terhadap industri tekstil berkelanjutan telah mengalami berbagai perkembangan sehingga banyak aspek yang memerlukan sertifikasi dari lembaga yang berbeda.

Langkah pertama untuk mendapatkan sertifikasi kain berbahan alami adalah membuktikan bahwa bahan mentahnya berasal dari perkebunan berkelanjutan. Di APR, 100 persen bubur kayu kami telah tersertifikasi, mayoritas sertifikatnya bahkan diterbitkan oleh badan internasional, PEFC (Programme for the Endorsement of Forest Certification).

Selanjutnya adalah memperlihatkan proses pembuatan kain di pabrik yang meminimalisir pengeluaran gas emisi dan penggunaan bahan kimia serta energi dalam skala besar, sekaligus bertanggung jawab terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja dan masyarakat setempat. Pabrik kami yang baru saja resmi beroperasi pada Januari 2019 pun sedang dalam proses mencapai standar sertifikasi pabrik tersebut.

Terakhir adalah sertifikasi produk yang standarnya melingkupi aspek-aspek berupa kualitas produk yang dapat dengan mudah dan cepat terurai (biodegradable) serta tidak mengandung bahan kimia berbahaya. Di APR, produk kami telah menerima penghargaan ‘Standard 100’ yang diberikan oleh OEKO-TEX. Hal ini membuktikan bahwa rayon viskosa kami bebas dari kandungan berbahaya dan aman bagi bayi dan anak-anak.

Peran Konsumen dalam Fashion Berkelanjutan

Laporan terbaru dari Pulse of the Fashion Industry menunjukkan bahwa 75 persen konsumen mulai memandang keberlanjutan sebagai aspek yang sangat penting. Namun, keberlanjutan masih belum menjadi penentu utama yang memengaruhi perilaku konsumen dalam membeli produk—meskipun begitu, konsumen menganggap keberlanjutan sebagai salah satu prasayarat dasar dalam membeli produk. Dengan kata lain, belum banyak konsumen yang secara aktif mencari produk yang mendukung fashion berkelanjutan dan juga belum berharap seluruh produk fashion mereka berkelanjutan.

Dalam beberapa tahun terakhir, telah banyak merek-merek fashion yang sesekali meluncurkan produk berkelanjutan, contohnyabarang – barang yang terbuat dari bahan daur ulang. Namun, semakin banyak konsumen yang mengharapkan hal ini menjadi suatu norma yang terus dilakukan, bukan hanya sebagai cara unik untuk meningkatkan nilai jual.

Konsumen membuat pilihan melalui setiap rupiah yang mereka keluarkan. Pelaku industri memiliki tugas yang lebih berat dalam fashion berkelanjutan. Namun, arah perjalanan untuk mendukung fashion berkelanjutan semakin jelas untuk semua pihak.