Perkuat Sektor Batik Nasional, APR Perkenalkan Bahan Lyocell yang Berkelanjutan | Asia Pacific Rayon Skip to main content
  • Kemampuan serat lyocell dalam menyerap kelembapan dan mengikat zat warna dengan sangat baik menghasilkan motif yang jauh lebih tajam serta ketahanan warna yang lebih kuat dibandingkan bahan lainnya.
  • Kolaborasi yang memadukan serat selulosa dengan teknik tradisional waleran khas Cirebon ini membuat seni kriya tradisional tetap relevan untuk busana modern.
  • Karakteristik lyocell yang adem dan memiliki jatuhan yang indah turut mendukung batik Indonesia dalam memenuhi standar permintaan global akan pakaian etnik premium yang berkelanjutan.

Perpaduan antara warisan budaya dan inovasi material modern menjadi babak baru dalam perkembangan industri kreatif Indonesia.

Langkah ini ditandai dengan Asia Pacific Rayon (APR) yang memperkenalkan lyocell ke ekosistem batik. Melalui kolaborasi yang diluncurkan dalam acara ‘Samudra Awan’ di Jakarta, bahan baku berkelanjutan yang berasal dari serat kayu ini menjadi alternatif material berperforma tinggi guna meningkatkan nilai estetika sekaligus nilai komersial dari kain batik.

Batik adalah seni kriya tradisional yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dan proses pembuatannya sangat bergantung pada interaksi antara pewarna dan permukaan kain. Hal inilah yang membuat pemilihan material menjadi faktor krusial dalam menentukan ketajaman motif serta daya tahan warna, baik pada teknik tulis maupun cap.

Dalam hal ini, lyocell hadir sebagai kanvas yang ideal karena tingkat penyerapannya yang tinggi. Karakteristik ini membuat penyerapan warna menjadi jauh lebih maksimal, menghasilkan motif yang lebih tajam, serta memberikan ketahanan warna yang lebih kuat agar desain batik tidak mudah pudar.

Komarudin Kudiya, pendiri Rumah Batik Komar menjelaskan keunggulan teknis material ini dalam proses produksi, “Lyocell secara signifikan mempercepat siklus produksi karena mampu menyerap pewarna dengan cepat dan membutuhkan volume zat pewarna yang lebih sedikit untuk mencapai hasil akhir yang cerah dan berkilau tinggi. Kekuatan serat dan daya rekat lilin malamnya sangat optimal, baik saat menggunakan canting tulis maupun cap tembaga. Hal ini membuat para proses membatik jauh lebih efisien.”

Selain unggul dari sisi produksi, kain berbahan dasar lyocell juga menawarkan kenyamanan ekstra bagi konsumen. Karakteristiknya yang adem dan memiliki sirkulasi udara yang baik menarik perhatian pasar yang mencari pakaian tradisional premium namun tetap nyaman untuk iklim tropis.

Sachin Malik, Commercial Head APR, menegaskan bahwa memperkenalkan lyocell ke sektor batik adalah langkah strategis untuk memperkuat rantai pasok lokal sekaligus mendorong daya saing batik Indonesia di pasar fesyen berkelanjutan internasional.

“Kami ingin menyediakan alternatif bagi ekosistem batik yang mampu menangkap detil dengan presisi yang tinggi, namun tetap mempertahankan tekstur lembut dan keindahan lekuk kain yang dibutuhkan untuk pakaian premium,” imbuhnya.

Pada acara peluncuran batik lyocell ini, keunggulan-keunggulan lyocell ditampilkan secara nyata lewat pameran kain batik berbahan dasar lyocell, serta koleksi kebaya modern dari label fesyen Merona.

Menghubungkan Tradisi dengan Teknologi Modern

Acara ‘Samudra Awan’ ini juga menyoroti aplikasi lyocell pada motif Megamendung khas Cirebon, Jawa Barat, yang dibuat menggunakan teknik Waleran, sebuah sistem pewarnaan gradasi dan pembentukan pola yang membutuhkan disiplin tinggi. Kehadiran inovasi ini juga mendapat dukungan kelembagaaan yang kuat, mulai dari Yayasan Batik Indonesia (YBI), Paguyuban Perajin dan Pengusaha Batik Cirebon (P3BC), hingga Direktorat Merek dan Indikasi Geografis Kementerian Hukum RI.

Kehadiran para pemangku kepentingan ini sekaligus menandai pentingnya penetapan resmi Indikasi Geografis (IG) untuk batik waleran, sebuah perlindungan hukum bagi perajin batik Cirebon dan memastikan inovasi modern tetap berjalan beriringan dengan warisan budaya asli.

Kombinasi antara tradisi dan inovasi modern ini membuktikan bahwa serat selulosa dapat berintegrasi ke dalam rantai pasok kerajinan tangan tanpa mengorbankan nilai otentik budaya.