Bantu Produsen Lokal, APR Gelar Masterclass Demi Akselerasi Adopsi Lyocell | Asia Pacific Rayon Skip to main content

Bandung & Solo, Indonesia – Asia Pacific Rayon (APR), bagian dari RGE Group, menggelar program Lyocell Fabric Processing Masterclass di dua pusat tekstil utama di Indonesia, yaitu Bandung dan Solo. Langkah strategis ini diambil untuk mempercepat adopsi serat berkelanjutan generasi terbaru di pasar domestik.

Program edukatif ini mempertemukan produsen kain, mitra rantai pasok, serta pakar teknis. Agenda utamanya adalah membedah berbagai tantangan krusial dalam proses produksi lyocell sekaligus membangun kapabilitas industri lokal agar pemanfaatan bahan baku ramah lingkungan ini bisa semakin luas.

Antusiasme industri terbukti sangat besar. Tercatat ada lebih dari 125 peserta yang mewakili leih dari 50 produsen kain rajut dan kain tenun yang hadir dalam rangkaian acara tersebut.

Menjawab Tantangan Teknis di Lantai Produksi

Seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk tekstil yang bertanggung jawab, lyocell muncul sebagai primadona baru. Serat ramah lingkungan ini dikenal memiliki performa tinggi, karakteristik yang kuat, tekstur lembut, dan tingkat keberlanjutan yang baik. Namun, serapan yang lebih luas di pasar tidak hanya bergantung pada ketersediaan serat saja, melainkan juga kesiapan teknologi pengolahan di sektor hilir. Faktor inilah yang kerap menjadi tantangan utama dalam komersialisasi skala besar.

Sesi Masterclass ini dirancang khusus untuk mengupas tuntas tantangan teknis yang sering dihadapi di pabrik. Mulai dari pengendalian risiko serat pecah (fibre split control), konsistensi proses pewarnaan, hingga optimalisasi tahap penyelesaian (finishing). Tujuannya agar para produsen mampu menghasilkan kain dengan kualitas yang stabil dan premium.

Berorientasi pada solusi praktis di lapangan, sesi workshop ini menerjemahkan keahlian teknis yang rumit menjadi langkah perbaikan konkret yang bisa langsung diterapkan oleh para pekerja di lantai produksi pabrik. Melalui panduan mendalam dan demonstrasi langsung, pabrikan kini dibekali kemampuan untuk menstabilkan produksi, meningkatkan kualitas kain, serta memperluas pengaplikasian lyocell dengan lebih percaya diri.

Menjembatani Potensi Serat dan Kinerja Pabrik

Indonesia memiliki ekosistem tekstil yang terintegrasi kuat, mulai dari produksi serat hingga pembuatan kain. Modal industri yang kokoh ini menjadi landasan kuat untuk mengerek volume adopsi lyocell. Di sinilah peran Masterclass APR, yakni menjembatani jarak antara potensi besar lyocell sebagai bahan baku dengan konsistensi performanya saat diolah di pabrik.

Dua produsen tekstil terkemuka tanah air, PT Mitra Jaya Sakti Sentosa (Bandung) dan PT Duniatex (Solo), turut membagikan studi kasus nyata mengenai implementasi bahan ini di lini produksi mereka. Keduanya memaparkan bagaimana disiplin proses pengolahan dan penyelarasan teknis mampu menghasilkan kain lyocell berkualitas tinggi dalam skala besar.

Salah satu poin penting yang digarisbawahi dalam pertemuan tersebut adalah pentingnya sinkronisasi antara proses mekanis dan kimiawi selama manufaktur. Perwakilan dari Biancalani, perusahan penyedia mesin tekstil ternama asal Italia, juga hadir membagikan keahlian mereka mengenai pengaturan mesin dan optimalisasi proses. Mereka menunjukkan bagaimana penyelarasan langkah pencucian, pewarnaan, dan penyelesaian akhir dapat mengendalikan fibrilasi sekaligus menjaga performa kain tetap konsisten.

Dari Minat Teknis Menuju Produksi Massal

Tingginya keterlibatan peserta di Bandung maupun Solo merefleksikan tren pasar yang sangat jelas: pabrik-pabrik tekstil di Indonesia sangat berminat memasukkan lyocell ke dalam lini produk mereka. Hanya saja, mereka membutuhkan rasa percaya diri secara teknis dan pemahaman proses yang lebih mendalam agar implementasinya berjalan mulus.

“Tanggung jawab kami terhadap para mitra tidak berhenti pada aspek konsistensi pasokan bahan baku saja,” ujar Sachin Malik, Business Head APR. “Kami memposisikan diri sebagai mitra yang terintegrasi, bekerja berdampingan dengan pabrik-pabrik mitra untuk membekali mereka dengan pengetahuan, perangkat kerja, dan keahlian teknis yang dibutuhkan. Dengan begitu, mereka bisa meraih hasil produksi yang konsisten dan berkualitas tinggi, yang pada akhirnya akan mempercepat adopsi material ini.”

Umpan balik pasca acara menunjukkan sinyal yang positif. Hampir 85% dari peserta yang saat ini belum memproduksi lyocell menyatakan ketertarikan mereka untuk mulai mengeksplorasi penggunaan serat tersebut. Angka ini menegaskan tingginya kesiapan para produsen tekstil Indonesia untuk beralih ke material berkelanjutan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Melalui perpaduan keahlian teknis, kolaborasi ekosistem, dan pengembangan pasar yang proaktif, APR optimistis dapat mengikis hambatan adopsi bahan baku ini sekaligus mendorong integrasi lyocell yang lebih luas di seluruh sektor tekstil Indonesia.